Jaka: Tak Pernah Mengenal Rumah

JAKA: TAK PERNAH MENGENAL RUMAH 

Di trotoar seberang gerai binatu yang tak jauh dari Pasar Klender SS, seorang anak duduk sambil memegang satu karung plastik bekas. Tangan lain anak itu memegang gancu setengah meter.

Raut wajahnya serombeng kaus dan celana pendek yang ia kenakan. Rambutnya pendek sedikit ikal. Saat pertama memperhatikannya, saya menebak usianya sekitar 13 atau 14.

Anak itu terlihat gelisah. Ia seperti tengah menunggu seseorang. Pandangannya seperti gerak kipas angin dinding, ke kanan ke kiri berulang kali.

Saya menghampirinya dan bertanya ia dari mana.

“Nggak dari mana-mana, Bang. Emang biasa beredar di sini,” jawabnya.

Namanya Jaka. Bapak dan ibunya tinggal di Pandeglang, Banten. 

Jaka mengaku usianya 16 tahun. Ia punya satu adik kandung laki-laki.

“Bapak sama Ibu mulung juga, adik tinggal sama mereka di Labuan [Pandeglang],” katanya.

Jaka memang tengah menunggu seorang temannya sesama pemulung. Selepas zuhur atau paling telat jam 2 siang, mereka selalu bertemu di trotoar seberang gerai binatu.

Karena mulai kepanasan, saya dan Jaka beringsut ke sebuah jongko kue basah. Jaraknya hanya selemparan batu.

Kami berdua lanjut berbincang di kursi kayu panjang yang peliturnya pudar. Ada terpal yang dibentangkan dari gerobak ke arah belakangnya. Sehingga saya dan Jaka bisa mengobrol tanpa kepanasan.


 

BERKARIB DENGAN JALANAN KLENDER

Sudah lusinan kali, Jaka bersama bapak, ibu, dan adiknya berpindah-pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain. Selalu satu petak. Dengan kamar mandi berada di luar.

“Mungkin bapak ibu saya cuma bisa nyewa kontrakan yang segitu dari dulu sampai sekarang,” kata Jaka.

Sejak Jaka kecil, bapak dan ibunya sudah bekerja menjadi pemulung. Keduanya mengumpulkan botol plastik bekas, besi, alumunium, hingga sampah perabotan lain. Setiap tiga hari sekali, mereka meloak semuanya ke bandar rongsok terdekat.

Hanya pekerjaan itu yang dikenal Jaka dengan baik, hingga ia dan sang adik juga melakoninya.

Lahir di sebuah keluarga kecil yang miskin membuatnya tak punya banyak pilihan: ikut memungut barang bekas dan menjualnya, atau mati kelaparan.

Jaka masih ingat, sudah dua kali keluarga kecilnya diusir oleh si pemilik kontrakan karena tak sanggup membayar sewa.

“Pernah waktu itu bapak bikin bedeng tripleks di belakang posyandu, kalo mau mandi atau buang air, ikut ke posyandu. Nggak lama abis itu diusir. Itu pas saya belum masuk sekolah,” lirih Jaka.

Ketika masih tinggal di Kalanganyar, Kecamatan Labuan, Jaka bersekolah di salah satu sekolah dasar negeri yang jaraknya satu kilometer dari rumah kontrakan. Lalu kemudian lanjut di sekolah menengah pertama di daerah Rancateureup.

Selama bersekolah, Jaka masih memulung plastik dan barang bekas. Ia lakukan setelah jam pulang sekolah.

Meski bisa menamatkan sekolah dasar, pada saat akan naik ke kelas 2 SMP, Jaka tak melanjutkan sekolahnya. Bapak ibunya tak mampu membiayai kebutuhan sekolah Jaka, meski saat itu iuran sudah digratiskan. Dari sini, perjalanan hidup Jaka yang berkaitan dengan Klender bermula. 

Awal mula Jaka bisa ada di Klender, berawal pada 2015. Saat itu sang bapak mendapat ajakan bekerja menjadi laden kuli bangunan untuk pembangunan sebuah perumahan di Klender. Bapaknya membawa Jaka selama bekerja. Sedangkan sang adik, berada di Labuan bersama ibunya.

“Bapak kerja, saya dititip ke temennya di sini,” kata Jaka.

Menurut Jaka, teman bapaknya itu merupakan mandor sekaligus yang mengajak bapaknya bekerja. Rumahnya berada tak jauh dari lokasi pembangunan perumahan baru tempat bapaknya bekerja. Setelah tiga bulan, Jaka dan bapaknya kembali pulang ke Labuan karena proyek pembangunan selesai.

Namun, masih di tahun yang sama, tepatnya pada pengujung 2015, bapaknya kembali mengajak Jaka ke Klender. Bapaknya yang ingin kembali ke sana meski tak ada ajakan kerja apa pun.

“Awalnya bapak dan saya numpang di rumah temannya yang dulu ngajak kerja, tinggal di kamar kosong gitu. Bapak lanjut mulung di sini, saya diajak juga,” kenang Jaka.

Mereka mulai memulung di area Pasar Perumnas Klender, memunguti sampah plastik di pasar. Setelah dikumpulkan, mereka menjualnya ke bandar rongsok di Teratai Putih Raya. Setiap dua bulan sekali pulang ke ke Labuan.

Pada 2018, bapaknya memutuskan untuk kembali pulang ke rumah kontrakan di Labuan. Alasannya, tidak bisa lagi meninggalkan ibu Jaka dan adiknya.

Jaka tetap tinggal di Klender dan ditampung oleh teman bapaknya sampai 2019. Baru setelah itu, Jaka menggelandang di jalanan Klender dan terus melanjutkan aktivitas memulungnya.

Selama ditampung di rumah teman bapaknya, Jaka selalu diberi makan sehari dua kali. Lantaran tidak punya anak sama sekali, Jaka seolah dianggap anak kandung sendiri.

Merasa tak enak hati, suatu hari Jaka memberanikan diri tak pulang, dan memilih bermalam bersama pemulung lain di Pasar Perumnas Klender. Sejak saat itu, Jaka mulai terbiasa hidup di jalanan Klender dan tak pernah lagi kembali ke rumah teman bapaknya.

“Seminggu biasanya dapat dua ratus sampai tiga ratus ribu, lumayan buat makan. Kalau tidur sih ada sama temen di petak belakang [pasar] Klender SS, kadang di taman, atau depan toko gitu,” kata Jaka.

Setiap selesai mengumpulkan botol plastik dan barang bekas lain, Jaka biasa mengumpulkannya bersama seorang temannya di petak belakang Pasar Klender SS. Tiap hari Jumat setiap pekannya, mereka meloak itu semua.

Untuk makan, Jaka sering membeli nasi bungkus di warung nasi atau penjual makanan di Pasar Klender SS. “Kadang suka ditambahin [makanannya], pernah juga digratisin. Pernah beberapa kali juga dikasih sisa  lauk sama nasi kalo malem, yang nggak kejual dikasih ke saya dan temen.” 

 

KENA JARING OPERASI

Pada April 2022, bertepatan dengan bulan Ramadan, Jaka pernah kena jaring operasi penertiban Penyandang Masalah kesejahteraan Sosial (PMKS). Operasi penertiban itu dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI Jakarta.

Jaka diangkut oleh petugas Satpol PP pada dini hari menjelang waktu sahur, sekitar di pekan kedua bulan Ramadan. Ia diangkut bersama enam pemulung lain, ketika tidur di area Taman Viaduct Klender.

“Tiga orang diangkut nggak tau ke mana, saya dan dua teman langsung dibawa ke panti yang di daerah Maisin [Jalan KH Maisin, Klender],” kata Jaka.

Jaka tak ingat nama panti tempat ia ditampung. Namun, jika mengacu pada data sebaran Unit Pelaksana Tugas (UPT) Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta, panti sosial yang dimaksud Jaka mengarah kuat pada Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA) Putra Utama 1. Tidak ada lagi UPT lain yang berlokasi di Klender selain panti itu.

Panti itu beralamat di Jl. KH. Maisin Nomor 107 Kp. Bulak, Kelurahan Klender, Jakarta Timur. Tugas pelaksanaan panti itu memang memberi pelayanan, pembinaan, serta pengasuhan, bagi anak terlantar atau anak jalanan.

Jaka berada di sekitar tujuh hari, diberi makan sehari tiga kali. Di hari pertama masuk panti, ada pemeriksaan kesehatan yang meliputi pengukuran tinggi badan, berat badan, tekanan darah, pernafasan, hingga pemberian vitamin bagi Jaka.

“Ditanya-tanya banyak banget. Dari mulai orangtua di mana, ngapain aja tiap hari. Pusing, Bang,” kata Jaka.

Jaka tidak mendapat pelatihan atau semacam bimbingan keterampilan tertentu selama berada di PSAA Putra Utama 1. Kegiatan yang ia lalui selama satu pekan, menurut Jaka, lebih banyak soal imbauan untuk para tunawisma, agar tidak berkeliaran di jalanan selama bulan Ramadan.

Di hari ketujuh, ada petugas panti yang mengantarnya pulang ke Labuan. Ia tak sendiri. Bersama dengan tiga lainnya, Jaka diantar pulang ke orangtuanya.

Sebelumnya, Jaka diminta menghubungi orangtua atau saudara terdekat untuk menjemputnya di panti sosial. “Kata petugasnya, saya masih anak-anak, jadi harus dijemput orangtua atau perwakilan keluarga gitu,” imbuhnya.

Karena orang tua Jaka tak punya telepon dan ia pun bingung mesti menghubungi siapa, ia pasrah pada petugas panti bakal dibawa ke mana.

Setelah dibawa menuju tempat asal, Jaka tidak diantar langsung ke rumah kontrakan bapak ibunya. Ia diturunkan di jalan utama Kalanganyar dan mesti jalan kaki sekitar setengah kilometer menuju kontrakan.

“Saya dikasih duit seratus ribu dari petugas, buat ongkos angkutan dan makan,” kata Jaka.

Jaka hanya bertahan dua hari di sana, sekadar melepas rindu pada bapak, ibu, dan adiknya. Ia kembali ke Jakarta naik angkutan umum.

Apa alasan Jaka ingin ke Jakarta meski tanpa rumah dan orang tua? Ia ingin mencari uang sendiri di jalanan, dan masih ingin menghabiskan hari-harinya bersama teman-teman.

Tidak hanya sekali Jaka kena jaring operasi penertiban PMKS. Empat bulan berselang, ia diangkut Satpol PP lagi.

Jaka kena jaring operasi penertiban PMKS ketika bermalam di depan sebuah bank swasta daerah Rawa Gelam, Jatinegara. Ketika itu, ada belasan tunawisma yang diangkut dari lokasi berdekatan dengan tempat Jaka bermalam.

Ia dibawa ke Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya yang beralamat di Ceger, Cipayung, Jakarta. Yang membedakan dengan pertama kalinya Jaka kena jaring operasi PMKS, ia hanya semalam saja berada di panti.

Selama satu malam berada di panti penampungan itu, Jaka dan kawan-kawan diimbauan untuk tidak tidur di emperan-emperan toko, kantor, atau gedung. 

“Nggak tau karena apa, abis dikasih makan dan peringatan, paginya pada dipulangin,” kata Jaka.

Saya bertanya apakah Jaka masih ingin hidup di jalanan Klender dan makan dari hasil memulung, ia hanya mengangguk perlahan.

Ia masih belum tau sampai kapan akan bertahan di jalanan. Ijazah sekolah dasar yang ia kantongi, tak akan mengantarkannya ke mana mana.

“Sejak kecil emang nggak pernah punya rumah sendiri, jadi nggak ngerasa punya kampung.”