Kilas Balik Pasca TikTok Shop Tutup

Kilas Balik Pasca TikTok Shop Tutup,  Penjual Berstrategi agar Tak Merugi

Setengah jam dari pengumuman TikTok Shop tutup, 4 Oktober 2023, Harlan, 32 tahun, tengah jeda dari mengantar sekitar 40-an paket. Ia ngopi di sebuah warung daerah Muncul, Setu, Tangerang Selatan. 
“Grup kurir langsung heboh. Pada ketakutan. Saya sendiri cemas juga, pasti ngaruh ke paket kiriman,” batin kurir J&T Express ini.
Kecemasan Harlan terbukti sudah, baru sehari pasca penutupan TikTok Shop, jumlah paket yang ia bawa turun drastis. 
“Biasanya bawa 3 karung [paket] di motor. Ini nggak nyampe 2 lusin,” keluhnya dalam sambungan telepon dengan Deduktif, Selasa, (10/10/2023).
Belum genap dari sebulan penutupan TikTok Shop, ekspedisi tempat Harlan bekerja akhirnya memutuskan untuk melakukan efisiensi dan restrukturisasi, termasuk pengurangan karyawan.
Pada Selasa, 31 Oktober 2023 lalu puluhan pegawai J&T Ekspres di kawasan gudang Malatek, Kecamatan Cimanggis, Depok, kena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). 
Surat pemberitahuan yang sampai ke tangan pekerja menyebut tindakan itu merupakan imbas dari penurunan volume pengiriman paket akibat berakhirnya kerjasama dengan salah satu platform marketplace (lokapasar).
Dulu, sebelum ribut-ribut penutupan TikTok Shop, pernah bagian dek tengah motor Harlan penuh paket dan menyulitkannya berkendara. Belum lagi tumpukan karung di jok belakang yang diikat ke pijakan kaki penumpang, membuat Harlan mesti berhati-hati ketika melaju di jalan berkelok.
Harlan sudah bekerja selama 2 tahun di J&T Express. Tapi baru trimester pertama di tahun 2023, ia mulai mengantar paket bagi konsumen TikTok Shop. Dalam periode ini ia bisa melakukan pengantaran selama 12 jam non-stop. 
Kini total radius pengantaran cukup dijangkau dalam waktu 6-8 jam saja. Kiriman paket turun hampir tiga kali lipat dari sebelumnya. Kondisi ini tentu berimbas pada penghasilan Harlan.
“Biasanya sebulan sampai Rp4 juta. Konsumen suka ngasih tip walaupun seribu-dua ribu. Sekarang ngejar Rp3 juta saja mati-matian.”
Setiap bulan, Harlan menerima gaji Rp2,1 juta. Di luar itu, ia mendapat bonus kiriman paket senilai Rp1 ribu/paket. Ketika TikTok Shop masih beroperasi, rekor bonus terbanyak bisa mencapai Rp62 ribu per hari.
“Emang sih Tanah Abang jadi sepi,” katanya, merespon dugaan kebangkrutan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dari aktivitas pasar elektronik. “ Tapi kurir juga pening. Kalau bisa dibuka lagi, tapi harganya disesuaikan, nggak beda jauh sama grosir,” harap Harlan di ujung telepon.

Tiktok Shop Pergi, Afiliator Gigit Jari
“Duh, gabut Kak!”
Dua bulan sudah Fitriyani (setelahnya disebut Fitri), salah satu afiliator di TikTok Shop kembali “nganggur”. Selain kurir seperti Harlan yang mengeluh akan penutupan TikTok Shop, afiliator yang lekat dengan aktivitas pemasaran di TikTok Shop juga ikut kena apes. 
Afiliator merupakan orang yang ikut memasarkan produk-produk dari penjual lain di lokapasar. Mereka mendapat keuntungan dari komisi yang dibagikan penjual dari total produk yang berhasil dipasarkan.
Bayangkan saja, pemasukan yang menolong saat pandemi menghadang, kembali raib seketika. Ya, pandemi membuat banyak orang menjajal peruntungan sebagai afiliator dan membikin pekerjaan ini jadi fenomenal, lantaran tak perlu keluar rumah dan tak butuh modal besar.
Sebelum menjajal program TikTok Affiliate yang menghubungkan kreator dengan penjual, perempuan kelahiran 1979 ini merupakan seorang penata rias. 
Namun pekerjaannya tak membuahkan hasil selama pandemi, karena beragam pesta dan perayaan tidak banyak digelar. Kondisi keuangannya morat-marit padahal ia masih harus menghidupi 3 orang anak. 
Ia pun menjajal jalan lain mencari rupiah: Menjadi afiliator.
Bukan tanpa susah payah Fitri menjajal TikTok afiliator, ia harus menemukan rumus sendiri dalam mengoptimalkan algoritma TikTok Shop. Jika meleset sedikit saja, maka aktivitas siaran langsungnya bakal kena gerus traffic afiliator lain. 
“Afiliator itu berperang dengan traffic. Saya tiga bulan tidak dapat traffic apa-apa. Kemudian ikut agensi, ikut pelatihan menjadi afiliator di Zoom,” kata Fitri menjelaskan perjuangan merintis sebagai afiliator TikTok, Rabu, (27/ 9/2023). 
“Kuncinya konsisten siaran di jam yang sama,” terangnya.
Dalam satu hari, Fitri melakukan siaran langsung dalam 2 sesi. Mulai dari pagi pukul 9.00 hingga 12.00, dan siang ke sore dari pukul 15.00 sampai 17.00. 
Jika sedang ingin menggenapi penjualan, Fitri sesekali live di sesi malam yang merupakan traffic paling tinggi. Dimulainya pada pukul 20.00. Totalnya, ia bisa live selama 5-6 jam dalam sehari.
Sejak memulai jadi afiliator di TikTok Shop pada akhir bulan Januari 2023, Fitri baru mendapatkan traffic pada Maret, bertepatan saat bulan Ramadhan. Penjualannya langsung naik karena animo masyarakat untuk membeli baju baru, persiapan lebaran.
Minimal 100 buah produk bisa terjual saat itu. Nilai penjualan tertinggi bisa mencapai Rp15 juta dalam sehari.
Di awal, Fitri juga tak langsung mendapat sampel produk secara cuma-cuma. Ia harus membeli sendiri semua produk yang dipromosikan, kemudian setelah standar jumlah pengikut dan durasi selama siaran langsung terpenuhi, ia baru dikontak penjual untuk pengiriman sampel.
“Saat itu saya langsung merasa bersyukur, sangat terbantu. Saya dapat banyak keuntungan setelah jadi afiliator karena tak harus keluar untuk dapat uang, bisa tetap menemani anak, kebutuhan sandang saya juga terpenuhi.”
Beberapa waktu sebelum TikTok Shop ditutup, penjualan Fitri sudah menembus angka 200 buah pakaian per hari. Ia bisa membuat omzet hingga angka Rp300 juta per bulan. 
Jika dikalikan dengan komisi sebesar 5-15 persen maka setidaknya Fitri bisa mengantongi pendapatan sebagai afiliator sebanyak Rp15-45 juta per bulan.
Selama ini Fitri mempromosikan ragam produk fesyen seperti baju, hijab, dan celana. Segmentasi penontonnya merupakan kelas menengah ke bawah dengan harga produk berkisar Rp30 ribu saja.
“Saya ambil baju yang murah tapi berkualitas, kalau jual di atas harga itu, selain sepi penonton juga tidak ada yang beli,” ungkapnya. 
Kini setelah TikTok Shop tutup dan memulai ekspansinya bersama GoTo, Fitri juga tengah putar otak untuk mencari model baru berafiliasi di lokapasar tersebut. Kembali memulai semua usahanya dari nol.
“Yang pasti mulai mencari kembali sistem promosinya, mencari traffic lagi, dan melihat lagi bagaimana algoritma baru (di Tokopedia) berjalan.”
Meski terlihat lesu membayangkan perjuangan di awal nanti, tapi kerjasama TikTok dan GoTo setidaknya membuka harapan baru bagi Fitri, dan juga Harlan-Harlan lain untuk kembali memperoleh penghidupan dari kemitraan lokapasar ini.
Siasat Penjual Hadapi Perubahan
Salah satu alasan penutupan TikTok Shop pada Oktober lalu adalah praktik predatory pricing, yakni penjualan barang di bawah harga pasar. Di TikTok Shop, bahkan sekelas artis pun ikut gabung sebagai penjual cum afiliator untuk menawarkan barang-barang murah. 
Dari data yang dihimpun oleh platform yang biasa menganalisis TikTok—yakni Kalodata—beberapa brand milik artis maupun selebriti ternama Indonesia menempati top 10 retailer Indonesia dengan pendapatan tertinggi per 26 Oktober 2023.


Di antara nama-nama besar merek skincare lokal maupun luar ternama seperti The Originote dan Skintific, ada brand kecantikan Bella Shofie Dabe milik artis ternama Bella Shofie yang menduduki peringkat ketujuh. Angka pendapatan kotor selama sepekan terakhir dari Bella Shofie Dabe sangat fantasis, yakni senilai Rp12,37 miliar.
Di tampuk peraih pendapatan kotor terbanyak dari TikTok Shop Indonesia, ada brand Glafidsya Skincare yang dimiliki oleh dr. Reza Gladys dan dr. Attaubah Muffid. Nilai pendapatan kotornya selama sepekan terakhir tak main-main, Glafidsya Skincare meraup Rp107,22 miliar.
Menurut Fitri, persaingan UMKM di TikTok Shop sebenarnya tak jadi soal. Hanya saja nama-nama besar selebritas membuat persaingan jadi berbeda. Para artis sudah lebih dulu unggul dari sisi jumlah pengikut di TikTok.
“Barangnya boleh biasa saja, tapi jika diiklankan artis, kita sudah kalah traffic duluan,” ucap Fitri.
Keluhan Fitri boleh jadi benar, penghapusan platform apapun tak bakal meruntuhkan siasat orang untuk berdagang. Para penjual–dan artisnya–bakal tetap beriklan di berbagai platform. 
Apalagi setelah menghadapi ketidakpastian pasca penutupan TikTok Shop. Mereka jelas menyiapkan strategi yang lebih jitu untuk menarik lebih banyak pembeli, tanpa bergantung pada satu pasar. Persis seperti cerita Ryan Saputra, 31 tahun.
Pemilik jenama fesyen “DZARGO” ini sudah ancang-ancang kaki 2 bulan sebelum TikTok Shop ditutup. Ia menyiapkan situs sendiri agar pembeli tak perlu pusing mencari produk ketika ada perubahan kebijakan seperti TikTok Shop.
“Kami sadar tak boleh bergantung dengan satu marketplace karena rentan berubah. Jadi kami berusaha mengalihkan audiens ke situs belanja sendiri,” ungkapnya kepada Deduktif, awal pekan Oktober 2023 lalu.
Ryan membangun bisnis pakaian basic pria di kala pandemi menerjang pada tahun 2020. “DZARGO” mulai bergabung di TikTok Shop dua tahun kemudian, tepatnya Mei 2022. 
Alasannya jelas untuk perluasan pasar, selain juga sistem TikTok Shop saat itu yang dianggap efisien: Mengintegrasikan konten media sosial dan pasar jual beli.
DZARGO termasuk produk fesyen yang dijual dengan harga murah, untuk kaus pria harganya sekitar Rp50 ribuan. Dalam sebulan, Ryan bisa menjual sekitar 5.000 buah produk berbagai jenis.
“Ya ini, tidak semua yang murah itu impor. Kita mengakali dengan beli bahan di Bandung dan Bogor, lalu diproses di Purbalingga dengan cost yang lebih terjangkau dibanding daerah lain. Dan tentu, tak ada toko fisik,” kata Ryan mengungkap strategi bisnisnya. “Jadi sangat wajar harganya bisa ditekan.”
Ryan termasuk penjual yang tak ambil pusing masalah penutupan (atau kini kemitraan) TikTok Shop. Baginya setiap regulasi yang berubah pasti memiliki dampak. Tapi ia tetap berharap agar efeknya tak terlampau timpang bagi salah satu pihak.
“Terdampak, bagi pengusaha bukanlah hal asing. Kami bisa berjuang lagi, usaha lagi, adaptasi strategi lagi. Selama tak ada pihak yang tersakiti berlebihan, at least memberi dampak lebih besar secara global.”

Penulis: Fajar Nugraha, Aditya Widya Putri
Editor: Aditya Widya Putri