Perjuangan Sunyi Perempuan Ahmadi, Hidupkan Rumah Belajar di Daerah Tertinggal
Kamis, 12 Maret 2026
TL;DR
- Di tengah diskriminasi dan persekusi terhadap Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), mereka membuka puluhan rumah belajar gratis di berbagai daerah Indonesia.
- Program 100 Rumah Belajar yang digagas Lajnah Imaillah membuktikan bahwa perempuan Ahmadi berperan besar dalam pendidikan akar rumput. Mereka konsisten mengajar dengan prinsip “Love for All, Hatred for None.”
- Meski kerap distigma, rumah belajar Ahmadiyah terbuka untuk semua anak lintas agama.
“Ngaji kok tiap hari sih?”
Maskah (39) paham betul, lontaran pertanyaan dari tetangganya punya arti lain. Maskah dan anaknya, Asbhat (11) mengaji di rumah belajar milik Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI). Hal yang tak lazim dilakukan masyarakat sekitar rumah mereka.
“Iya biar bae,” katanya menyahut cuek sambil menata cilok, puding cokelat, permen jeli, dan es krim cup ke atas sepeda listrik.

Foto: Maskah (39) bersiap mengendarai sepeda sambil membonceng kedua anaknyamenuju Rumah Belajar al-Masroor, Kabupaten Bekasi. Sambil menunggu anaknya belajar ia memanfaatkan untuk berdagang, Sabtu, (3/1).

Foto: Maskah (kanan) bersama keluarganya menjajakan dagangan di area Rumah Belajar al-Masroor, Kabupaten Bekasi, Sabtu, (3/1).
Jajanan itu nantinya bakal ia jual di sekitar rumah belajar. Sambil menyelam, minum air, begitu prinsip Maskah. Sambil ngaji, cari tambahan beli beras segantang. Maklum, kebutuhan pokok melonjak drastis sejak dua tahun terakhir, sementara upah suaminya sebagai buruh pabrik gas alam di Cikarang, tak berubah sejak pertama kerja.
Maskah lalu masuk ke dalam rumah, menggendong anak bungsunya yang masih berusia dua tahun dan memanggil Asbhat. Mereka bergegas berangkat ke Rumah Belajar Al-Masroor, Bekasi. Pelajaran hari itu membahas tentang akhlak, Asbhat bersigap tak mau ketinggalan dongeng menarik dari Ibu Siti dan Pak Udin.

Foto: Seorang siswa memegang camilan yang dijual Maskah, Sabtu, (3/1).
Sepeda listrik Maskah memuat Asbhat di boncengan belakang, sementara ia mengemudi sambil menggendong si bayi. Di sela-sela kakinya sudah bersusun kotak plastik berisi dagangan. Sampai di rumah belajar, Asbhat langsung memilih meja di deretan depan dan Maskah menurunkan dagangan sambil bersiap jualan dan mengaji di samping rumah belajar.
“Asbhat dari awal rumah belajar berdiri udah ikut [belajar]. Alhamdulillah sekarang jadi jarang main HP dan nilainya naik terus,” Maskah membuka obrolan bersama Deduktif, Sabtu (3/1/2026) lalu.

Foto: Sejumlah siswa duduk di sekitar Rumah Belajar al-Masroor, Kabupaten Bekasi saat jeda belajar, Sabtu, (3/1).
Ia berapi-api bercerita soal Asbhat yang sering mendapat peringkat 3 besar di kelas. Bahkan setelah ikut bimbingan di Rumah Belajar Al-Masroor pada Oktober 2025 lalu, Asbhat yang masih kelas 5 SD sampai bisa mengajar matematika sang kakak yang sudah duduk di bangku menengah pertama.
“Memang Asbhat itu rajin sekali [ke rumah belajar]. Kalau ada PR dari guru di sini, cepet-cepet dikerjakan supaya dapat hadiah, biasanya yang duluan selesai suka dapet Beng Beng.”
Rumah Belajar Al-Masroor merupakan salah satu target 100 Rumah Belajar yang dicanangkan JAI. Lajnah Imaillah, lembaga perempuan muslim Ahmadiyah. Saat ini sudah ada sekitar 38 rumah belajar yang tersebar di seluruh Indonesia.

Foto: Sandal anak-anak berjejer rapi di depan Rumah Belajar al-Masroor, Kabupaten Bekasi, Sabtu, (3/1).

Foto: “Cageur, Bageur, Pinter”, jargon Rumah Belajar al-Masroor yang berarti “Sehat, Baik, Cerdas”.

Foto: Seorang siswi menulis di papan tulis saat kelas Bahasa Inggris di Rumah Belajar al-Masroor, Kabupaten Bekasi, Sabtu, (3/1).

Foto: Siti Romlah (40) tengah mengajar para siswa prasekolah di Rumah Belajar al-Masroor, Kabupaten Bekasi, Sabtu, (3/1).
Umumnya, rumah belajar JAI berdiri di pedesaan atau daerah pelosok. Di wilayah dengan angka buta huruf tinggi, atau tak tuntas kelas menengah pertama karena jargon pemerataan pendidikan pemerintah tak sampai ke daerah mereka.
Di Labansari, Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi mayoritas warga bekerja sebagai buruh tani atau serabutan. Mereka jadi buruh di tanah sendiri sebab sebagian besar persawahan justru dimiliki orang luar desa.
Penghasilan warga tidak menentu, apalagi saat musim hujan. Panen seringkali gagal akibat penyebaran penyakit dan hama. Wilayah desa juga sering terendam banjir, lantaran dihimpit Sungai Citarum dan Cibeet. Kabupaten Bekasi punya penduduk miskin sebanyak 204,5 ribu jiwa, sebanyak 58,11 persen tidak bekerja. Dari total penduduk miskin, hanya sekitar 19,58 persen yang mampu lulus sekolah menengah atas (BPS, 2024).
Siti Romlah (40), salah satu pengajar di sana bilang, ide awal Rumah Belajar Al-Masroor tercetus saat melihat rendahnya minat belajar di lingkungan Labansari. Setiap pulang sekolah, anak-anak biasa berkumpul untuk bermain gim. Tak ada pengawasan dari orang tua, karena mereka sibuk berusaha supaya periuk nasinya tetap terisi.

Foto: Siti membimbing muridnya untuk membaca dan menulis, Sabtu, (3/1).
“Di sini orang tuanya juga banyak tidak bisa baca tulis. Jadi tidak aware [dengan anaknya]. Anak-anak itu sampai kelas 4-6 SD banyak yang belum bisa baca tulis,” kata Siti di sela-sela mengajar, Sabtu (3/1/2026).
Siti dan pengajar lain di Al-Masroor dulunya merupakan guru SD. Saat ada kabar soal pembukaan rumah belajar, mereka datang menawarkan ilmu secara sukarela, tanpa imbalan.

Foto: Catatan lirik lagu berbahasa Inggris di Rumah Belajar al-Masroor, Kabupaten Bekasi, Sabtu, (3/1).
Ada banyak materi yang diajarkan di kelas belajar JAI selain mengaji: matematika, membaca, menulis, bahasa inggris, keterampilan, olahraga, hingga teknologi. Di Rumah Belajar Al-Masroor, pengajarnya membantu baca, tulis, hitung untuk 36 anak prasekolah hingga sekolah menengah pertama. Plus mengaji untuk anak dan dewasa.
“Kami sangat terbantu oleh rumah belajar, karena semua gratis termasuk alat tulis. Biar orang ngomong apa [tentang Ahmadiyah], kita yang jalanin. Enggak peduli,” ujar Maskah mantap hati.
Memberi Pendidikan dari Jawa Hingga Papua
Memilih menjadi Muslim Ahmadi di Indonesia rasanya seperti pertaruhan hidup. Sejak 1998, Ahmadiyah terus mendapat diskriminasi, pengucilan, bahkan penyerangan fisik dan psikis yang membikin mereka harus hidup–bersembunyi di balik tabir. Jika tidak, rumah-rumah mereka dibakar, masjid disegel, bahkan nyawa mereka direnggut.
Pada Juli 2005, gelombang kekerasan terhadap Muslim Ahmadi bak api disiram minyak oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Mereka mengeluarkan fatwa bahwa Ahmadiyah termasuk aliran sesat. Setelahnya pada Juni 2008 pemerintah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri yang melarang kegiatan JAI.
Tapi Muslim Ahmadi tak pernah melawan balik. Bagi mereka perlawanan dengan amarah adalah bentuk kesia-siaan belaka. Mereka meyakini, kebencian tak patut diberikan pada siapapun, tapi cinta perlu disebarkan kepada semua orang. “Love for All, Hatred for None”, prinsip yang selalu dipegang hingga kini.
“Selama saya mengaji [di Rumah Belajar Al-Masroor] tak ada ajaran menyimpang. Ngajinya sama, Al-Qur’annya sama, Tuhannya Allah, nabinya juga Muhammad,” ungkap Maskah.

Foto: Sadr Lilis Aisyah Bakrie, berdiskusi bersama sejumlah di anggota Lajnah Imaillah. Ahmadiyah berupaya mendirikan ratusan rumah belajar gratis di sejumlah wilayah Indonesia, Kabupaten Bogor, Minggu, (4/1).
Semua anak di sekitar Rumah Belajar Al-Masroor, katanya, boleh ikut kelas secara cuma-cuma. Bukan hanya anak-anak Ahmadi saja. Maskah menjamin, tak ada ajakan atau “doktrin-doktrin” untuk bergabung menjadi jemaat. Bahkan teman-teman anaknya pun banyak yang berasal dari nonAhmadi.
Program Rumah Belajar pertama kali dicetuskan secara resmi dalam pertemuan tahunan Lajnah Imaillah pada 2017. Saat itu, beberapa perempuan Ahmadi melaporkan aksi sosial membuka rumah belajar di rumah mereka. Mutia Siddiqa (37) salah satunya. Ia memberi kelas belajar gratis di Ngrowo, kampung kecil di Kota Madiun, Jawa Timur sejak 2014.

Foto: Sadr Lajnah Imaillah, Lilis Aisyah Bakrie berjalan di area perpustakaan Nusrat Jahan, Kabupaten Bogor, Minggu, (4/1).
“Sebelum kongres, para pengurus pusat datang ke rumah belajar [di Madiun]. Anak-anak ada yang baca puisi, ngaji, dll. Nah penampilan mereka sangat berkesan bagi [pengurus] pusat,” cerita Mutia pada Deduktif lewat telepon, (14/01/2026).
Sadr (sebutan untuk pemimpin organisasi) Lajnah Imaillah saat itu lalu memutuskan bahwa rumah belajar jadi program khusus bagi organisasi perempuan Ahmadi. Para perempuan Ahmadi ini seperti membuktikan bahwa bermanfaat tak perlu terlihat dan jadi bagian dari mayoritas.

Foto: Mutia Siddiqa (37) membacakan dongeng untuk anak-anak di Rumah Belajar SatuTiBa, Fak-fak, Papua Barat. (Doc: Pribadi)
Kemudian pada Desember 2025 lalu, Amir (pemimpin) Nasional Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia, Zaki Firdaus Syahid resmi menargetkan Program 100 Rumah Belajar pada Jalsah Salanah (pertemuan nasional Jamaat Ahmadiyah).
Mutia punya kenangan manis saat pertama kali membuka rumah belajar pertama di Madiun. Lingkungan tempat tinggalnya rata-rata berprofesi sebagai tukang becak atau buruh cuci baju. Saat tahun ajaran baru, Mutia membagian alat tulis gratis ke tetangga-tetangganya. Lalu seorang anak laki-laki berumur sekitar 9 tahun datang menghampiri.
Foto: Sejumlah anak menikmati camilan selepas belajar di Rumah Belajar SatuTiBa, Fak-fak, Papua Barat. (Doc: Pribadi)
“Bu, kalau belajar di sini boleh engga?”
“Wah boleh banget!”
“Bayarnya berapa?”
“Engga usah bayar, datang saja nanti Ibu ajarin.”
Firza nama anak itu, anak kelas 4 SD. Bapaknya tukang becak, sementara sang ibu berjualan keliling dengan mengayuh ontel tua. Tapi Firza seperti bersinar dan punya magnet yang menarik orang-orang di sekitarnya untuk jatuh cinta. Anak ini yang kemudian “menghidupkan” rumah belajar dengan mengajak teman-temannya belajar bersama.
Firza membawa teman-temannya yang bersekolah di madrasah. Teman-teman Kristen dan Katoliknya juga tak luput kena rayu. Dari 6 bulan rumah belajar berjalan, total anak yang diajar Mutia mencapai 20 orang. Kebanyakan adalah teman-teman Firza.
“Kalau di Madiun toleransinya kuat, malah ada anak Madrasah Ibtidayah [MI, sekolah islam setara SD] yang suka main di masjid kami. Orang tuanya nungguin, dan mereka pernah mau kasih uang patungan, tapi kami tolak,” tutur Mutia. Penolakan Mutia bukan lancang belaka, ia hanya ingin semua anak setara, mendapat ilmu secara cuma-cuma.
Singkat cerita, pada 2018 Mutia harus pergi dari Nggrowo lantaran suaminya pindah tugas ke Depok, Jawa Barat. Di kota ini, awalnya ia juga membuka rumah belajar, sekitar 1 km jaraknya dari Masjid Al-Hidayah di Depok. Sekitar 2 bulan berjalan, Mutia punya murid sampai 10 orang. Tapi setelah orang tua mereka tahu bahwa ia seorang Ahmadi, lama-lama muridnya habis.
“Awalnya mereka menyapa biasa. Setelah tau saya Ahmadi, saat lewat depan rumahnya, pintu dibanting kencang. Kami lalu menyerah.”
Jemaat Ahmadiyah Depok memang beberapa kali mendapat persekusi dari kelompok-kelompok tak dikenal. Masjid Al-Hidayah milik mereka terhitung sudah lebih dari 7 (tujuh) kali disegel oleh Pekot Depok tanpa alasan yang jelas. Puncaknya pada Oktober 2021, sekitar 50 massa berdemo, berusaha merusak dan membakar masjid.
Sampai akhirnya pada 2023 Mutia pindah ke Banjar, Jawa Barat. Di kota ini perjuangannya membuka kelas gratis juga tertatih. Gelombang kebencian terhadap Ahmadiyah tengah merebak di banyak kota Indonesia, termasuk Banjar. Masjid Jemaat Ahmadiyah di Banjar bahkan sampai dihancurkan, rata dengan tanah.
Banjar lebih parah dibanding Depok. Mutia bahkan sampai tak berani membuka kelas belajar di rumahnya karena khawatir diprotes warga sekitar dan dianggap menyebarkan ajaran kepada anak-anak di sana. Hanya delapan anak Ahmadi yang mau ikut belajar, dan ia memutuskan membersamai mereka di Poskamling desa.
“Tidak ada trust pada masyarakat di sana. ‘Aduh diajarin orang Ahmadiyah, nanti dimasukin Ahmadiyah, diajarin engga bener, sesat’. Mereka udah takut duluan,” ungkap Mutia.
Sekitar 1,5 tahun setelahnya, pada Agustus 2025, Mutia harus pindah lagi mengikuti suami berdinas di Fakfak, Papua Barat. Di sini, ia justru diterima dengan tangan terbuka, meski perumahannya merupakan kampung Katolik.
“Kepala kampung seneng banget, dia juga yang meresmikan Rumah Belajar SatuTiBa [Satu Tungku Tiga Batu],” katanya.
Murid-murid Mutia dari timur Indonesia ini mencapai 39 anak hanya dalam waktu beberapa bulan saja. Pembelajar pertama diisi oleh anak-anak Elias Gredenggo (45): Gifen (13) dan Marcelo (11). Awalnya Elias sebagai tetangga, membantu Mutia pindahan, membersihkan rumah dan menata perabotan. Dari obrolan-obrolan ringan, Elias tahu bahwa Mutia selama ini membuka kelas belajar gratis untuk anak-anak.
“Wah dari pada anak-anak berantem, atau tidak belajar. Bagus sekali pulang sekolah isi waktu kosong,” tuturnya pada Deduktif, (15/01/2026).
Sambil tergelak dia melanjutkan cerita kalau Marcelo pernah mau “dihajar” karena mendapat nilai ulangan selalu di bawah 30. Setelah belajar bersama Mutia, nilai anaknya naik menjadi 60 ke atas. Si sulung Gifen malah menunjukkan perkembangan fantastis. Ia sampai masuk peringkat 5 besar, dari sebelumnya tak pernah dapat peringkat.
“Saya sudah bersyukur sekali. Pelajaran [yang dapat nilai] terbaik itu matematika dan inggris, pelajaran yang diajar oleh bapak-ibu ustaz [Mutia dan suaminya].”
Di Jambi, Perempuan Ahmadi Mengajar Turun-Temurun
“Kami sangat mencintai anak-anak dan dunia mereka.”
Bagi Ani Rohaeni (54), anak-anak adalah jantung hidupnya, dan mengajar adalah terapi supaya ia bisa tetap awet muda. Saking cintanya pada dunia pendidikan, ia menyerahkan lebih dari setengah umurnya untuk menjadi pengajar di Bukit Harapan, salah satu desa di Kecamatan Mersam, Kabupaten Batang Hari, Jambi.
Pada 1993, Ani muda yang masih berusia 21 tahun menjajal peruntungan sebagai transmigran di Jambi. Ia berangkat bersama beberapa orang saudara dari Kabupaten Ciamis (saat ini menjadi Kabupaten Pangandaran), Jawa Barat. Sebagai mantan guru Taman Kanak-kanak (TK), di tanah rantau ia menginisiasi Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) untuk anak-anak transmigran.
“Alhamdulilah di sini orangnya lebih toleran. Kami tidak sikut menyikut karena semua pendatang. Jadi kami cari saudara bukan musuh,” jawabnya kepada Deduktif saat ditanya soal penolakan yang banyak dialami inisiator rumah belajar di daerah lain, (27/1/2026).

Foto: Rumah Belajar Maryam memfasilitasi kelas belajar gratis, khususnya untuk pelajaran bahasa inggris dan mengaji, Kecamatan Mersam, Kabupaten Batang Hari, Jambi. (Doc: Pribadi)
Dalam wawancara yang berlangsung lewat telepon seluler, Ani bercerita, pernah pada awal tahun 1999, saat konflik sektarian Kepulauan Maluku meletus, ia hampir jadi korban provokasi. Segelintir orang membuat narasi buruk tentangnya dan melaporkan kepada kepala desa. Tapi kemudian teman-teman Ani membela dan memberi kesaksian pada kepala desa.
Peristiwa Maluku merupakan konflik etnis-politik antara kelompok Islamis Laskar Jihad dengan kelompok Kristen Manado. Konflik ini bermula pada era Reformasi awal akibat ketidakpastian ekonomi pascaSoeharto digulingkan.
“Ya itu, teman saya bilang ke kepala desa ‘anak saya ngaji di sana, pakai Al-Qur’an juga’. Jadi masalah akidah urusan masing-masing,” tutur Ani.
Sambil tergelak, Ani melanjutkan lini masa kisahnya pada kisaran 2005, saat terjadi penyerangan terhadap kampus pusat jamaah Ahmadiyah di Parung, Bogor. Ketika itu terjadi eskalasi kebencian dan represi terhadap jemaat Ahmadi di seluruh Indonesia. Rumah Ani tak luput dimonitor oleh intel polisi. Lucunya, suami Ani dan si intel justru jadi teman hingga sekarang.
“Malam-malam [intelnya] mantau, tanya ‘Pak, Bu, aman engga?’. Kita malah dijagain. Karena sama-sama orang sunda, jadi sering main ke sini, makan bareng.”

Foto: Hasil karya dari anak-anak Rumah Belajar Maryam, Kecamatan Mersam, Kabupaten Batang Hari, Jambi. (Doc: Pribadi)
Tahun demi tahun bergulir. Kini TPA yang diinisiasi Ani diteruskan anaknya, Maryam Shiddiqah (37). Ia mewariskan napas perjuangan dari sang ibu dan meresmikan “Rumah Belajar Maryam” pada 2023 lalu. Selain Ani yang mengajar ngaji, Maryam menambah materi bahasa inggris untuk para anak didik.
Rumah Belajar Maryam buka dua kali dalam seminggu, saban Sabtu sore dan Minggu pagi. Anak didiknya mencapai 34 orang dari tingkat prasekolah, SD, hingga SMP. Pada 2025, Rumah Belajar Maryam secara resmi masuk dalam Program 100 Rumah Belajar Ahmadiyah.
“Setelah masuk program, sesuai himbauan [pengurus JAI pusat], kami merambah ke pelajaran umum lainnya,” tambah Maryam.
Evi (40) adalah saksi hidup dari kisah perjuangan Ani dan Maryam memberikan pendidikan gratis di Jambi. Ia merupakan salah satu anak didik Ani, kini kedua anaknya, jadi versi dirinya saat 30 tahun lalu, menjadi anak sasian di Rumah Belajar Maryam.
Si sulung sudah ikut belajar sejak kelas 4 sekolah dasar. Sekarang sudah tumbuh menjadi remaja perempuan yang merampungkan sekolah menengah pertama. Sementara si bungsu selalu nginthil sejak kakaknya belajar di RB Maryam hingga sekarang duduk di kelas 1 sekolah dasar.
“Alhamdulillah anak saya yang pertama sekarang di pondok. Ibaratnya dia jadi yang paling fasih bahasa inggris, dan ikut eksul bahasa inggris,” ungkap Evi menggaransi kehebatan Maryam mengajar bahasa inggris.
Sementara anak keduanya, meski di sekolah belum ada pelajaran bahasa inggris, si bungsu sudah lebih unggul dibanding teman-temannya. “Kadang malah jadi ngajarin saya,” kata Evi terkekeh.
Dari seluruh narasi miring tentang Ahmadiyah, Evi tak mau ambil pusing. Baginya, keluarga Ani malah sudah seperti saudara, seperti ibu sendiri. Tak ada kebimbangan tentang Ahmadiyah karena akar keluarga Evi juga menanamkan toleransi.
Ia cuma berharap, supaya Ani dan Maryam diberi umur panjang, supaya Rumah Belajar Maryam bisa terus berjalan, supaya Ahmadiyah tetap memberikan pengajaran untuk anak-anak daerah yang tak punya privilese pendidikan seperti di Jakarta.

