Kuliah Tanpa Keringat, Enaknya Jadi Sarjana di Era Kecerdasan Buatan
16 Februari 2026
TL;DR
-
Survei menyebut sebanyak lebih dari 80% siswa dan mahasiswa menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mengerjakan tugas.
-
Penggunaan AI membuat nilai tugas menjadi lebih tinggi.
-
Masifnya penggunaan AI oleh mahasiswa memaksa dosen mengubah metode evaluasi menjadi ujian tulis tangan atau lisan.
-
Riset menunjukkan ketergantungan pada AI berkorelasi pada penurunan kreativitas, daya ingat, dan kemampuan berpikir.
“Taba”, mahasiswa semester akhir S1 Manajemen Komunikasi Universitas Padjadjaran blak-blakan mengaku sering menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk mengerjakan tugas. Kiwari, bukan Taba saja mahasiswa yang berlaku demikian, setidaknya begitulah hasil reportase Deduktif.
Kami mewawancarai mahasiswa dan juga dosen dari beberapa universitas tentang maraknya penggunaan AI di tataran kampus. Mulai dari mahasiswa ilmu eksakta hingga ilmu sosial rata-rata mengaku sudah biasa memakai kecerdasan buatan untuk membantu menyelesaikan tugas kuliah, bahkan skripsi.
Dalam kasus Taba, sebagian tugas kuliahnya diselesaikan dengan AI, biasanya tugas rumah (take home), dan terakhir, skripsi. Dari semua platform AI, Humata adalah andalannya. “Humata lebih tepat, spesifik, dan benar-benar merangkum berdasarkan jurnal, sementara ChatGPT atau Gemini suka mengada-ada isi jurnal,” akunya saat bercakap-cakap bersama Deduktif, (25/05/2025).
Berbeda dengan Taba, “Faris”, mahasiswa Sastra Rusia sebuah universitas di Jawa Barat justru menggunakan ChatGPT untuk mencari referensi tugas kuliah, ditambah platform Deepseek dan Gemini. Faris punya alasan yang ia anggap kuat untuk menggunakan AI, ia menolak jika dianggap “pemalas” karena alat bantu tersebut.
“Bukan karena malas, mencari sumber-sumber [bahasa] Rusia itu lumayan sulit, bahkan website-website Rusia pun kadang informasinya kurang lengkap. Makanya aku beralih ke AI supaya lebih mudah mencari sumber,” tuturnya, (19/05/2025).
Cara penggunaan kecerdasan buatan dalam tugas kuliah kemudian dipraktikkan “Diaz”, mahasiswa Sosiologi Universitas Sebelas Maret (UNS). AI lebih sering digunakan untuk mencari dan mencocokkan teori dengan masalah yang akan dibahas dalam tugas. Semisal temuan AI menyajikan beberapa sosiolog seperti Jurgen Habermas, Alain Touraine, dan Manuel Castells, maka Diaz kembali meminta AI menyajikan literatur yang mendukung penggunaan teori nama-nama tersebut dalam topik yang diangkat.
Jika yang lain menggunakan untuk merangkum dan/atau memperbaiki tata bahasa tulisan, Diaz sudah memanfaatkan kecerdasan buatan ke tahap konsep tulisan. Ia menggunakan 6 platform AI berbeda untuk menutup kekurangan tiap-tiap AI dan membuat tugasnya lebih “sempurna”, yakni Claude, ChatGPT, Perplexity, Elicit, ConnectedPapers, ResearchRabbit.
“Sekitar 60% tugasku dibuat dengan AI,” akunya kepada Deduktif, (20/05/2025).
Kecerdasan buatan tak cuma umum dipakai mahasiswa jenjang sarjana, mahasiswa magister yang diwawancarai Deduktif pun menceritakan hal serupa. “Arsad” mahasiswa pendidikan magister di Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) Institut Teknologi Bandung (ITB), menggunakan AI untuk membantu membuat presentasi.
“Membuat kerangka berpikir presentasi dan mengedit tulisan. Sekitar 10-20% tugas dibantu AI,” kata Arsad.
Tak mau tugasnya terdeteksi menggunakan alat bantu kecerdasan buatan, Arsad punya strategi berlapis, menggunakan AI tambahan yakni Copilot. AI jenis ini menawarkan bantuan kontekstual, mengotomatiskan tugas rutin, dan menganalisis data yang terintegrasi dalam ekosistem Microsoft.
“Pakai Copilot agar dapat hasil yang berbeda dari ChatGPT. Takutnya jawabannya sama dengan teman sekelas.”
Keempat mahasiswa ini merupakan gambaran dari survei Tirto dengan Jakpat tahun 2024 soal penggunaan AI di kalangan pelajar SMA-universitas. Sebanyak 82,61 persen dari 1.501 responden mengaku menggunakan kecerdasan buatan setidaknya sebulan sekali untuk membantu mengerjakan tugas. Hanya 13,79 persen yang mengaku tidak pernah menggunakan AI.
Fenomena penggunaan kecerdasan buatan di kalangan mahasiswa, akhirnya memicu ketegangan antar mahasiswa pengguna AI dan yang tidak: Dari keresahan soal integritas akademik, sampai pengurangan nilai karena tuduhan tak berdasar.
Pengalaman ini dikisahkan oleh “Charles”, mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat. Charles merasa dirugikan karena kelompoknya memasukkan informasi yang tidak relevan ke dalam tugas kelompok. Dan data yang dimasukkan hanya salin-tempel (copas) dari platform kecerdasan buatan yang dipakai.
“Gara-gara itu banyak yang salah teori, enggak sempet revisi karena baru baca pas dosennya mau masuk. Dosen mencurigai dua orang pakai ChatGPT, sekelompok jadi kena,” ceritanya pada Deduktif, (22/05/2025).
Charles juga mendapati hasil ujian akhir semester (UAS) miliknya lebih rendah dibanding rekan sekelas yang menggunakan AI. Ia yang dicurigai sebagai pengguna kecerdasan buatan karena mendapat nilai terendah dalam kelompok. “Saat keluar hasil UAS, kaget! Kok saya dapat 70 doang, mereka dapat 80-85. Teman bilang kalau pengguna AI diberi nilai 70. Itu kan saya,” kata Charles menampik tuduhan penggunaan AI.
“Caroline”, mahasiswi S1 Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Airlangga punya nasib yang hampir sama seperti Charles. Ia direpotkan karena hasil tugas teman sekelompok yang harus dia tinjau karena terbukti menggunakan kecerdasan buatan. Caroline menemukan tulisan “apakah anda butuh bantuan lebih lanjut?” di dalam proposal sang teman.
“Suatu hari di kelas proposal skripsi tuh ada sesi peer review, aku dapet hasil seseorang pakai AI karena bagian itu ikut ke-copas [salin tempel]. Aku jadi bingung banget harus peer review bagaimana,” katanya berkeluh kepada Deduktif, (22/05/2025).
Jalan Pintas Menuju Nilai Tinggi
Tahun 2024 lalu, Deduktif meliput soal inflasi nilai yang terjadi di berbagai universitas di Indonesia. Hasilnya menunjukkan inflasi cum laude selama satu dekade terakhir. Yang menjadi pertanyaan, apakah AI berkontribusi dalam fenomena ini?
Jawabannya masih sumir. Penelitian yang dilakukan oleh Hausman, dkk (2025) menunjukkan mata kuliah yang ramah kecerdasan buatan. Tugas rumah, esai, ujian di rumah, dan proyek kuliah, naik 1,5 poin dari skala 100 pasca ChatGPT diluncurkan pada tahun 2022. Sebaliknya, mata kuliah atau ujian yang harus bertatap muka atau berada di laboratorium memiliki nilai lebih rendah.
“Secara IPK tidak ada perubahan berarti. Tetapi IP beberapa mata kuliah yang menggunakan AI, cukup tinggi nilainya. Bisa dibilang ini ‘menggendong’ IPK saya,” ungkap Arsad, si mahasiswa arsitek, seolah mengamini penelitian tersebut.
Fenomena ini bukan hanya menggerus integritas, tapi juga menggerogoti nilai-nilai universitas. Bagi sebagian orang—contohnya beberapa mahasiswa yang diwawancarai di artikel New York Magazine—kuliah hanya masalah mencari koneksi atau mendapat ijazah. Pendeknya, tangga menjajaki karier kerah putih. Nilai utama dari pendidikan tinggi yang datang dari proses belajar panjang dan disiplin sehingga membentuk kemampuan berpikir kritis dan terstruktur mulai terkikis AI.
Deduktif lalu mengajak beberapa pengajar untuk berdiskusi dan mengkonfirmasi dampak penggunaan AI terhadap kenaikan nilai mahasiswa. “Bambang”, Dosen Sosio-Humaniora di sebuah PTN Jawa Barat merasa tak lagi bisa membendung penggunaan kecerdasan buatan dalam aktivitas perkuliahan.
“Sebagai dosen merasa sudah tidak punya kontrol terhadap apa yang diproduksi mahasiswa,” ujar Bambang membuka obrolan bersama Deduktif, (23/06/2025).
Padahal menurutnya, kemampuan berpikir dan menulis merupakan salah satu tolak ukur penilaian mahasiswa sosio-humaniora. Kecerdasan buatan telah menghilangkan kemampuan tersebut dan mengaburkan perkembangan belajar mahasiswa.
“Dari tahun ke tahun struktur SPOK, kesalahan gramatik mahasiswa, umumnya ada. Semakin ke sini, kesalahannya turun sekali ke tingkatan yang tidak wajar,” ungkap Bambang.
Ia sampai memburu tipo (salah ketik) sebagai indikator mahasiswa tidak menggunakan AI.
Sentimen serupa diungkapkan Agus Indiyanto, Dosen Antropologi Budaya UGM. Agus akhirnya memberlakukan ujian tengah semester (UTS) dan/atau akhir semester (UAS) menggunakan pulpen dan kertas, atau tes oral demi menganulir keculasan mahasiswa memakai kecerdasan buatan.
Selain itu Agus juga rutin memberi tugas mingguan guna melihat stabilitas dalam kualitas tulisan. Ia mengamati konsistensi ide dari mahasiswanya sebagai penanda, apakah esai ditulis dengan pemikiran mahasiswa atau campur tangan AI.
“Menulis bagus dengan konsisten kan susah. Kadang [mahasiswa] mood dengan topik-topik tertentu, tapi tidak mood di topik-topik lain. Ketika [kualitas tulisan] tidak jauh jaraknya, kita bisa mencurigai itu sebagai kerjaan AI,” paparnya kepada Deduktif, (3/11/2025).
Penanda lain yang ia jadikan patokan dari penggunaan kecerdasan buatan adalah penyebutan nama-nama peneliti atau pemikir yang tidak sesuai dengan silabus. “Anak tahun pertama sudah mengutip antropolog yang advance, bukan lagi acuan pokok seperti Malinowski, Geertz. Begitu,” ucap Agus.
Miris, dampak penggunaan kecerdasan buatan ini justru membikin kualitas tulisan mahasiswa menjadi lebih rendah. Pengerjaan tugas memang lebih cepat, tapi tingkat penyerapan informasi menjadi korban. Penelitian dari Gerlich (2025) menunjukkan penyerahan proses berpikir ke AI berkorelasi terhadap kemampuan berpikir kritis yang rendah.
“Kualitas tulisan mahasiswa jauh lebih baik beberapa tahun sebelumnya, dibanding dua tahun terakhir,” tambah Agus.
Aturan Penggunaan AI di Kampus
Narasi penggunaan kecerdasan buatan yang awalnya cuma terkait mahasiswa kini mulai bergeser ke arah dosen. Reportase Deduktif menemukan bahwa AI mulai digunakan untuk merancang materi kuliah, menganalisis data penelitian, hingga memberi umpan balik terhadap tugas mahasiswa.
Artikel yang diterbitkan Fortune di awal Juli tahun lalu (2025) menyoroti para dosen dan asisten dosen yang menyerahkan proses penilaian tugas kepada AI. Salah satu asisten dosen yang diwawancara mengaku menggunakan kecerdasan buatan untuk menilai 70-90 esai. Ia memasukkan perintah berdasar kriteria penilaiannya, lalu mengirimkan esai-esai tersebut ke AI untuk dinilai. Namun hasilnya jelas bias, esai yang ditulis AI kerap kali mendapat nilai yang lebih tinggi.
Agus yang mengampu mata kuliah Antropologi Teknologi pernah beberapa kali meminta bantuan kecerdasan buatan untuk membuat silabus dan mengecek referensi. Namun hasilnya jauh dari harapan.
“Bukunya disebut ada, tapi dicek ulang tidak ada. Bukunya ada, tapi babnya tidak ada, atau penomoran babnya berbeda.”
Di lain waktu, ia mencoba member prompt soal referensi literatur antropologi klasik. Sang mesin malah menyebut nama-nama antropolog nonklasik. Beberapa nama bahkan bukan antropolog, tapi kebetulan menyertakan kata kunci yang ia cari. Sisanya justru mengkategorikan antropolog sebagai ahli lain hanya karena topik penelitian utamanya tidak berbau antropologi.
“Kan logikanya si AI ini cuma berburu dan meramu. Jadi ketika diperintahkan mencari ‘antropolog’, dia langsung mengkotakkan-kotakkan informasi yang memuat kata antropologi atau antropolog,” tutur Agus.
Sejatinya demi menekan penggunaan kecerdasan buatan yang semakin massif, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi telah menerbitkan dua buku panduan soal penggunaan AI. Edisi pertama terbit tahun 2024 dan dicetak lagi pada Juni 2025. Panduan ini meminta dosen dan mahasiswa untuk menggunakan AI sebagai asisten dalam proses belajar-mengajar secara bijak. Namun pada akhirnya, regulasi soal penggunaan tetap diserahkan kepada pihak universitas.
Elida Lailiya Istiqomah, Dosen Departemen Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UGM menyatakan dirinya membebaskan mahasiswa menggunakan AI. Ia melihat kecerdasan buatan sebagai teknologi yang positif dan tidak bisa dibatasi, sehingga lebih baik diperlakukan sebagai “partner”.
“Karena AI sebenarnya bisa sangat membantu mahasiswa untuk belajar dan membantu dosen juga. Tinggal kreatifnya dosen membuat tugas supaya mahasiswa harus berpikir lagi, cek lagi, untuk membuat analisis mendalam.”
Baginya, mahasiswa boleh menggunakan kecerdasan buatan asal mengolah ulang hasil jawaban dari AI yang didapat. Karena Elida mengakui hasil prompting yang dikeluarkan AI belum sepenuhnya tepat. “Saya pernah pakai AI, tapi hasilnya masih kurang tepat, harus di-crosscheck lagi,” tutur Elida.
Sejauh ini regulasi penggunaan AI selain dikeluarkan Kemendikti, sudah disusun mandiri oleh ITB dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Walau dalam konteks ITB, regulasinya masih berupa draft yang berjudul “Kebijakan dan Panduan Kecerdasan Buatan Dalam Kegiatan Akademik”. Dalam dokumen tersebut mahasiswa dilarang menggunakan AI untuk “pembuatan tugas/karya seni, teks akademik, dan ujian”.
Aturan tersebut juga tidak memperkenankan mahasiswa untuk “mengumpulkan tugas yang dikerjakan menggunakan AI tanpa surat pernyataan yang mendeklarasikan penggunaan AI”. Serta melarang “penggunaan AI untuk menyusun argumen, analisis, atau sintesis informasi yang seharusnya merupakan hasil pemikiran mahasiswa”. Walau begitu, ITB memperbolehkan penggunaan AI dalam koridor yang terbatas dan lewat izin eksplisit dari dosen.
Kecerdasan Buatan yang Menyesatkan
Jauh sebelum ada AI, universitas dan dosen sudah mengandalkan alat detektor plagiasi, seperti Turnitin untuk membantu menilai kemungkinan plagiasi dari tulisan mahasiswa. Turnitin bekerja dengan mencocokkan tulisan mahasiswa dengan esai, buku, dan tulisan-tulisan lainnya yang sudah terdata di database mereka. Setelahnya aplikasi ini akan mengeluarkan persentase kemiripan tulisan tadi dengan tulisan yang sudah terbit.
Pada situsnya, Turnitin menegaskan hasil detektor mereka bukan penilaian final soal apakah sebuah tulisan merupakan hasil plagiasi atau tidak. Keputusan terakhir ada di tangan pengajar. Munculnya AI membuat situs-situs detektor plagiasi ikut meluncurkan sistem detektor AI. Semuanya mengklaim hasil deteksi AI-nya punya akurasi tinggi:
Copyleaks mengklaim tingkat akurasinya 99,12%, Turnitin 98%, Originality AI 98,2%, sedangkan GPTZero 99%.
Kenyataannya, detektor AI kerap memunculkan false positive alias menandai tulisan yang ditulis oleh manusia sebagai tulisan AI. Weber-Wulff, dkk (2023) menyimpulkan alat-alat detektor AI—termasuk yang sering dipakai universitas seperti Turnitin dan PlagiarismCheck—salah melabeli tulisan manusia sebagai tulisan AI dan begitu pula sebaliknya.
Tes lain yang dilakukan oleh Bloomberg menggunakan 500 esai aplikasi Universitas Texas A&M di tahun 2022 sebelum ChatGPT rilis menandai 3 esai sepenuhnya dibuat AI dan 9 esai dibuat AI dan manusia. Tingkat kredibilitas yang sumir ini yang akhirnya membuat beberapa universitas AS seperti Vanderbilt University, University of Texas, dan Northwestern University menolak penggunaan alat detektor AI.
Selain false positive, alat-alat ini juga mudah sekali dikelabui. Hanya dengan satu klik, mahasiswa bisa mencari berbagai artikel yang memberi tips dan trik untuk mencurangi Turnitin. Diaz, si mahasiswa Sosiologi UNS mengaku mengelabui detektor dengan menerjemahkan hasil AI yang berbahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Sementara Arsad, si mahasiswa magister Arsitektur menggunakan dua AI atau lebih untuk memastikan jawaban esainya tidak sama dengan mahasiswa lain.
Hal ini sudah disadari oleh beberapa universitas, sehingga para dosen seperti Agus mulai mewaspadai skripsi yang memiliki skor Turnitin 0% dan melaporkan skripsi tersebut ke prodi untuk diinvestigasi lebih lanjut. Dan kebijakan ini juga berlaku untuk dosen. “Bambang” Dosen Sosio-Humaniora di sebuah PTN Jawa Barat mengaku diminta membuat surat pernyataan saat karya tulisnya dicurigai hasil plagiasi.
“Karya berbahasa Indonesia yang saya tulis tanpa AI mendapat skor Turnitin dibawah 4%. Saya diminta membuat surat pernyataan bahwa karya itu bikinan sendiri.”
Insiden ini memberikan pukulan mental yang berat bagi Agus. Apalagi melihat orang lain yang menggunakan AI tidak mendapat hukuman yang sama. “Konyol karena saya tidak pakai apapun untuk karya itu,” tuturnya.
Baik Bambang dan Agus merasa alat detektor AI tidak sepenuhnya akurat. Kalaupun universitas meminta dosen menggunakan alat detektor AI, hal tersebut hanya akan menambah beban kerja dosen. Dalam konteks Agus, satu dekade lalu mahasiswa yang ia ampu dalam satu kelas berjumlah 50 orang,sekarang jumlahnya membludak menjadi 70 orang. Bayangkan memasukkan esai mahasiswa satu per satu ke mesin detektor AI setiap minggu. Tentu menguras waktu dan tenaga.
“AI detector bisa diakali dengan parafrase segala macam. Kalau saya lebih mengandalkan insting saja, ada emosinya atau tidak. Kalau AI, in general tidak ada emosinya, strukturnya saja masuk, tapi enggak ada emosinya,” tutur Agus.
Walau teknologi terus maju, tingkat “halusinasi” kecerdasan buatan ikut meningkat, hasil jawaban AI menjadi lebih tidak akurat. Pada bulan Mei lalu, The New York Times melaporkan o3–sistem ChatGPT sekarang–“menghalusinasikan” sebanyak 33 persen jawaban ketika menjalani PersonQA, yang mengetes pengetahuan soal tokoh publik.
Sistem terbarunya, o4-mini, bahkan menghasilkan jawaban bodong lebih tinggi, yaitu 48 persen. Bukan tidak mungkin hasil pencarian soal topik yang lebih terspesialisasi menghasilkan jawaban yang jauh lebih salah. Selanjutnya soal kemampuan meringkas dokumen, hasil tes yang dilakukan perusahaan AI Vectara memperlihatkan tidak ada model AI yang sepenuhnya bisa membuat intisari akurat.
Namun, yang paling membahayakan justru efek AI pada kemampuan berpikir. Bukti empiris membuktikan penggunaan kecerdasan buatan membuat mahasiswa semakin malas. Penelitian tahun 2023 yang melibatkan 285 mahasiswa S1-S3 dari universitas di Tiongkok dan Pakistan memperlihatkan penggunaan kecerdasan buatan secara signifikan meningkatkan kemalasan mahasiswa untuk berpikir independen dan membuat keputusan mandiri.
Bahkan sekelompok peneliti Massachusetts Institute of Technology (MIT) secara tidak langsung menyebut mahasiswa pengguna AI tidak lebih kreatif dibanding bukan pengguna. Konklusi ini mereka rilis pada laporan yang meneliti perbedaan aktivitas otak dalam penulisan esai mahasiswa: menggunakan otak, pencarian Google, dan AI.
Peneliti mengambil sampel mahasiswa sarjana sampai pascasarjana yang masih kuliah atau sudah bekerja sebagai periset dan software engineer dari 5 kampus di Amerika (Wellesley, Harvard, MIT, Tufts, dan Northeastern). Responden dibagi menjadi tiga kelompok dan mengikuti tiga sesi pengerjaan esai secara berturut-turut.
Selama tes, setiap responden menggunakan perangkat kepala khusus yang mencatat aktivitas listrik di otak (EEG). Kelompok yang hanya menggunakan pikiran sendiri menunjukkan aktivitas otak yang lebih tinggi, diikuti oleh kelompok Google, dan terakhir AI.
Dari segi hasil, esai kelompok otak cenderung ringkas dan lebih kreatif dibandingkan kelompok Google yang kerap menggunakan kata kunci dari hasil teratas Google. Hasil esai menggunakan AI paling tidak kreatif karena cenderung memproduksi esai bernada mirip dan tidak personal.
Dari segi kualitas dan originalitas, kelompok Google dan AI lebih banyak mengandalkan alat dan fokus ke menyalin dan menempel (copy and pasting) konten alih-alih pikiran mereka. Aspek ini berkontribusi dalam memori dan rasa kepemilikan (ownership) responden. Responden yang menulis tanpa bantuan alat bisa mengingat dan menceritakan kembali isi tulisan mereka. Kelompok AI sulit melakukan hal serupa.
Menariknya, juri manusia bisa membedakan esai yang ditulis sendiri dengan esai bantuan Google dan AI, karena gayanya cenderung homogen. Penelitian ini menyimpulkan penulisan esai secara independen memiliki kemampuan memori, hasil belajar mendalam, keterlibatan, dan kepemilikan esai yang lebih tinggi, diikuti oleh mereka yang menggunakan Google. Meskipun paling diuntungkan dengan AI, penyerapan informasi, keterlibatan diri dengan materi, dan kepemilikan (authorship) kelompok AI paling rendah.
Meskipun penelitian-penelitian ini masih berada pada tahap awal, namun jelas menjadi gambaran masa depan, jika kecerdasan buatan menjadi sandaran utama dalam menuntaskan perkuliahan: merosotnya tingkat kognitif, keengganan berpikir independen dan kritis, serta kenaifan bahwa AI adalah fakta tak terbantahkan.
Reporter: Ann Putri
Editor: Aditya Widya Putri
Ilustrator: Aan K. Riyadi

